BI Memperluas Kebijakan Pelonggaran Giro Wajib Minumim Valas

BI – Bank Indonesia menyempurnakan ketentuan Giro Wajib Minimum(GWM) dalam Rupiah dan Valuta Asing, melalui peraturan Bank Indonesia No.22/3/PBI/2020 tentang Perubahan atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 20/3/PBI/2018 tentang Giro Wajib Minimum Dalam Rupiah dan Valuta Asing Bagi Bank Umum Konvensional, Bank Umum Syariah, dan Unit Usaha Syariah, berlaku efektif sejak 26 Maret 2020.

Ketentuan tersebut merupakan salah satu implementasi kebijakan makroprudensial BI yang akomodatif, untuk mendorong intermediasi perbankan sebagai upaya BI memitigasi dampak COVID-19.

Baca juga : 5 Usaha Dengan Modal Kecil Yang Cocok Untuk Mahasiswa Teknik Informatika

Penyempurnaan ketentuan ini terkait pembrian kelonggaran atas kewajiban pemenuhan kewajiban GWM dalam rupiah yang wajib dipenuhi secara harian kepada Bank Umum Konvensional(BUK), Bank Umum Syariah(BUS), dan Bank Unit Usuha(UUS). Hal ini guna mendukung implementasi tindak lanjutan keputusan Rapat Dewan Gubernur(RDG) Bulan Maret 2020.

“BI memutuskan memperluas kebijakan insentif pelonggaran GWM harian dalam Rupiah sebesar 50bps,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Wijanarko dalam keterangan tertulis yang diterima merdeka.com, Jakarta, Selasa (31/3).

Semula aturan ini hanya berlaku bagi bank melakukan pembiayaan ekspor-impor. DItambah dengan yang melakukan pembiayaan kepada UMKM dan sektor prioritas lainnya.

Adapun ketentuan insentif bagi BUK, BUS dan UUS yang melakukan kegiatan pembiayaan ekspor-impor, pembiayaan kepada UMKM dan sektor-sektor prioritas lainnya, akan dituangkan secara terpisah.

Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah, OJK dan otoritas terkait dalam memantau perkembangan pandemi Covid-19. Ini dilakukan sebagai guna menempuh langkah-langkah kebijakan yang diperlukan untuk memitigasi dan mengurangi dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Turun Rasio GWM Valas

Bank Indonesia(BI) memutuskan untuk menurunkan rasio Giro Wajib Minimum(GWM) dan Valuta Asing(Valas) bagi Bank Umum Konvensional(BUK) dasri semula 8 persen menjadi 4 persen. Ketentuan baru ini akan mulai berlaku pada 16 Maret 2020.

BI menilai penurunan rasio GWM Valas tersebut akan meningkatkan likuiditas valas di perbankan sekitar USD 3,2 miliar dan sekaligus mengurangi tekanan di pasar valas.

“Kebijakan penurunan GWM valas dapat meningkatkan likuiditas valas di perbankan dan sekaligus mengurangi tekanan di pasar valas,” tulis BI dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (13/3).

Selain GWM valas, dalam menjaga stabilitas moneter dan pasar keuangan termasuk mitigasi risiko COVID-19 terhadap perekonomian, BI juga menurunkan GWM Rupiah sebesar 50 basis poin (bps). Penurunan ini ditujukan kepada bank-bank yang melakukan kegiatan pembiayaan ekspor-impor, yang dalam pelaksanaannya akan berkoordinasi dengan Pemerintah.

Sumber : merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *