BI Ramal Ekonomi Hanya Tumbuh 1,9 Persen pada 2020

BI Ramal Ekonomi Hanya Tumbuh 1,9 Persen pada 2020

BI memprediksi Ekonomi Hanya Tumbuh 1,9 Persen pada 2020

BI Ramal Ekonomi Hanya Tumbuh 1,9 Persen pada 2020 – Bank Indonesia (BI) kembali menurunkan target pertumbuhan ekonomi Tanah Air dari awalnya di bawah 2,3 persen menjadi 0,9 persen hingga 1,9 persen pada tahun ini. Penurunan proyeksi utamanya mempertimbangkan rendahnya jalannya ekonomi pada kuartal II 2020.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 kemungkinan akan lebih sedikit dari kuartal I 2020 yang di level 2,97 persen. Hal ini terjadi karena Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berjalan sangat ketat pada periode tersebut sehingga menurunkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Bahkan, penurunan itu sudah terlihat dari melambatnya realisasi penjualan ritel di masyarakat. Begitu pula dengan penhasilan masyarakat, khususnya yang berada di golongan rendah. – Pertumbuhan akan menurun cukup drastis pada kuartal II, kemudian meningkat pada kuartal III dan IV,” ujar Perry saat konferensi pers virtual, Kamis (18/9).

Sayangnya, Perry tidak mau merinci berapa proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II, kuartal III, dan kuartal IV 2020. Menurut Perry, ekonomi nasional akan berangsur pulih pada kuartal II dan IV 2020 karena pemerintah mulai memberlakukan masa transisi PSBB menuju tatanan kehidupan baru (new normal) mulai bulan ini.

Pemerintah pun sudah membuka aktivitas bagi sembilan sektor yang sebelumnya bergerak secara terbatas selama masa PSBB. Hal ini dikatakan Perry, diharapkan bisa memulihkan kembali aktivitas ekonomi masyarakat, sehingga memberi dampak pada laju pertumbuhan di paruh kedua tahun ini.

“Tapi sesuai kebijakan bapak presiden, new normal ini bukan berarti kembali ke kebiasaan lama, tapi diharapkan bisa bertahap dengan tetap menerapkan protokol kesehatan corona, yaitu produktif dan aman,” katanya.

Selanjutnya, ia mengatakan pemulihan ekonomi pada kuartal III dan IV 2020 juga akan berasal dari tetap besarnya bantuan sosial (bansos) dari pemerintah kepada masyarakat yang miskin. Begitu pula dengan insentif untuk dunia usaha dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN)

Tak ketinggalan, BI juga tetap memberikan stimulus moneter. Dari sektor riil, Perry melihat kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berupa program restrukturisasi kredit akan mulai dirasa dampaknya.

“Perkiraannya mungkin tahun depan, pertumbuhan ekonomi akan berkisar dari 5 persen sampai 6 persen dengan berbagai pertimbangan tadi,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *