Bisakah Suku Bunga Acuan Turun Lagi? Ini Jawaban Gubernur BI

Bisakah Suku Bunga Acuan Turun Lagi? Ini Jawaban Gubernur BI

Bisakah Suku Bunga Acuan Turun Lagi? Ini Jawaban Gubernur BI

Bisakah Suku Bunga Acuan Turun Lagi? Ini Jawaban Gubernur BI – Ekonomi Indonesia memang masih dalam tahap pemulihan. Akan tetapi, sejumlah indikator perekonomian Indonesia menunjukkan keadaan yang terus membaik, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi maupun nilai tukar rupiah.

Dengan keadaan itu, bisakah suku bunga acuan turunkan?

“Kita melihat bahwa jika hal ini terus menunjukan keadaan yang baik dan ikuti dengan data tergantung informasi yang peroleh tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan easing,” kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, Gedung BI,Mengutip dariĀ  https://bigleegs.com/,Jumat (4/8/2017).

Suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate ditahan pada level 4,75% sejak Oktober 2016. Alasannya yang kemukakan adalah ketidakpastian dari sisi global, khususnya Amerika Serikat (AS) yang mempercepat kenaikan suku bunga acuan sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Mengutip dari http://162.241.119.31/ penurunan suku bunga perlukan untuk mendorong ekonomi dari sisi moneter. Asumsinya ketika suku bunga acuan diturunkan, maka suku bunga deposito maupun kredit juga bisa lebih rendah dari sekarang. Sehingga masyarakat, khususnya kalangan dunia usaha bisa melakukan kegiatan ekonomi lebih tinggi.

“Kalau situasi terus menunjukkan keadaan terjaga tidak tertutup kemungkinan BI akan easing untuk bisa respons dan membantu ekonnomi kita supaya pertumbuhan ekonomi terjaga, investasi terjaga. Namun ini semua tergantung data saat RDG (Rapat Dewan Gubernur),” terang Agus.

Baca juga:
Dana Asing Masuk Rp 131 T, BI: Investor Percaya dengan RI

Penyaluran Kredit Lesu

Terkait dengan rendahnya penyaluran kredit perbankan, Agus mengakui banyak perusahaan melakukan konsolidasi sejak awal tahun akibat beberapa faktor. Dari sisi global, memang ada kenaikan harga komoditas dari akhir 2016, namun sisi lain adanya ketidakpastian dalam hal geopolitik beberapa kawasan.

“Korporasi Indonesia banyak yang sedang lakukan konsolidasi. Menunjukkan penurunan karena mereka efisiensi,” ujarnya.

Dalam catatan BI, penyaluran kredit perbankan nasional per Juni 2017 tercatat 7,6% angka ini melambat bandingkan periode Mei 2017 yakni 8,6%. Agus menuturkan kehati-hatian perbankan sebagai bagian dari upaya menjaga Non Performing Loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah.

“Maka mereka cukup hati-hati. Kalau membaik kita lihat potensi ekonomi Indonesia semester II akan membaik,” tegas Agus. (mkj/dnl)