Cegah Satwa Kelaparan, PKBSI Galang Dana Lewat Food for Animal

Cegah Satwa Kelaparan, PKBSI Galang Dana Lewat Food for Animal

6 Bukti Tragis Penderitaan Satwa di Kebun Binatang Indonesia - MediaRiau.com

Di lansir dari bigleegs.com, tengah situasi pandemik COVID-19, keberadaan satwa di beberapa kebun binatang terancam mengalami kelaparan karena area tersebut tutup selama PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di lakukan di beberapa kota. Oleh sebab itu, Ketua Umum Perhimpunan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) Rahmat Shah berinisiatif mengajak masyarakat luas untuk ikut peduli dengan keberadaan satwa.

PKBSI mengajak masyarakat luas untuk ikut peduli dengan satwa di lembaga konservatif melalui program donasi ‘Food for Animal.’ Nantinya, dari seluruh hasil program itu akan disalurkan ke lembaga konservasi yang membutuhkan pembiayaan pakan satwa dan obat-obatan selama masa pandemik COVID-19.

Mengutip dari louisvuittonoutletclearance.us.com/, “Tentu kami akan mempertanggungjawabkan seluruh donasi masyarakat secara transparan. Termasuk menyeleksi LK yang sangat membutuhkan bantuan. Baik selama masa pandemik maupun masa recovery pascapandemik ini,” ujarnya.

Lalu, bagaimana cara masyarakat atau kita yang ikut serta dalam program donasi itu?

1. Selama lembaga konservasi tutup, mereka tetap harus memberikan pakan dan pemeliharaan terhadap satwa

Rahmat menjelaskan, selama lembaga konservasi tutup operasi untuk menghindari penyebaran COVID-19, satwa tetap di pelihara. Pemberian pakan dan pemeriksaan kesehatan tetap di lakukan untuk menjamin kesejahteraan satwa di LK.

Namun, dengan adanya penutupan saat pandemik COVID-19, LK di Indonesia tidak mendapatkan pemasukan. Hal itu lah yang membuat satwa mengalami kelaparan.

“Faktanya, meskipun di tutup, pemeliharaan terhadap satwa di LK tetap di lakukan. Mulai dari pemberian pakan, pemeriksaan kesehatan hingga menjaga kebersihan lingkungannya,” ujarnya.

2. KLHK catat ada 82 lembaga konservasi dengan 66.845 satwa

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno mengatakan LK di Indonesia seperti Kebun Binatang, Taman Satwa dan Taman Safari yang telah mendapatkan izin dari KLHK yaitu, sebanyak 81 unit. Pengelolanya mulai dari Badan Usaha Milik Pemerintah Daerah maupun Badan Usaha Milik Swasta (BUMS).

“Dengan jumlah koleksi satwa lebih dari 66.845. Baik karnivora, herbivora, burung dan ikan, penutupan LK mempengaruhi operasional dalam mencukupi kebutuhan pakan dan obat-obatan,” tuturnya.

3. KLHK tegaskan tidak ada satwa yang dikorbankan untuk pakan hewan lain

Wiratno juga menegaskan, tidak ada LK yang mengambil langkah untuk mengorbankan satwa koleksi mereka untuk pakan satwa lainnya. Pada dasarnya satwa yang ada di LK merupakan satwa milik negara.

“Dengan demikian, apabila akan di lakukan pemindahan ataupun pengurangan satwa untuk kebutuhan pakan satwa lain harus seizin kami (KLHK) dan mengikuti proses ketentuan regulasi yang berlaku. Yang kita tekankan ke pengelola LK untuk memodifikasi pakan untuk satwa baik frekuensinya maupun jenisnya tapi jangan sampai mengurangi nutrisi kebutuhan satwa, kesejahteraan satwa di LK tetap yang utama,” katanya.

Untuk beberapa LK, Wiratno melanjutkan, saat ini sedang di lakukan kajian kemungkinan pelepasliaran beberapa satwa yang secara kesehatan layak untuk di lepasliarkan ke habitatnya. Namun, hal itu baru bisa terealisasi setelah kondisi transportasi memungkinkan.