Fakta Impor Obat RI, Sengaja Dipelihara Mafia hingga Pembubaran kementerian

Fakta Impor Obat RI, Sengaja Dipelihara Mafia hingga Pembubaran kementerian

Fakta Mafia Alat Kesehatan

FaktaMenteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, mengatakan tingginya impor alat kesehatan Indonesia membuat permainan para mafia meraja rela. Dia pun berjanji akan menindak tegas mafia tersebut agar tidak menyulitkan negara.

Terlebih lagi, alat kesehatan seperti alat pelindung diri (APD), hingga masker N95 sangat dibutuhkan tenaga medis untuk memerangi virus corona di Indonesia. “Kalau kita tidak gotong royong, memangnya bangsa lain peduli? Jangan semuanya ujung-ujung duit terus, lalu kita kejebak short term policy, didominasi mafia (impor alkes), kita harus lawan itu. Pak Jokowi punya keberpihakan akan itu,” kata Menteri Erick.

Baca juga : Dahana Ekspor 20 kontainer Bahan Peledak

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga mengatakan, mafia alat kesehatan dan bahan-bahan kesehatan ini sebenarnya sudah ada sebelum Erick Thohir dilantik jadi Menteri BUMN. “Ketika beliau (Erick Thohir) mendalami health security ternyata terbukti Indonesia itu berat di urusan-urusan kesehatan, alat kesehatan dan obat-obatan saja hampir 90 persen bahan dari impor,” ujar Arya.

Lalu apa saja fakta di balik impor obat Indonesia. Berikut merdeka.com akan merangkumnya.

Industri Obat Dibiarkan Diam Agar Mafia Berjalan

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, membeberkan alasan Indonesia masih harus mengimpor bahan baku obat serta alat kesehatan dari luar negeri. “Menyangkut dengan alat kesehatan, saya setuju sekali. Saya dulu waktu pengusaha 90 persen alkes kita ini impor. Ini sengaja memang,” ujar Bahlil dalam rapat virtual bersama DPR.

Menurut Bahlil, sejak dulu memang ada yang sengaja melakukan pembiaran agar industri kesehatan tidak dibangun di dalam negeri. Dia bahkan mengakui, sudah mengetahui adanya permainan impor obat sejak 2006.

“Dari dulu saya juga salah satu pengusaha tahun 2006, itu main barang ini. Aku tahu betul ini barang permainannya bagaimana. Sengaja ini industrinya tidak dibangun,” jelasnya.

Mafia Obat dan Alkes dari Lokal dan Global

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menegaskan bahwa ada mafia besar baik skala global maupun lokal yang membuat Indonesia tidak mandiri dalam industri kesehatan.

“Mengenai mafia alat kesehatan dan bahan-bahan kesehatan, ini sebenarnya jauh-jauh hari ketika Pak Erick Thohir dilantik jadi Menteri BUMN, beliau sudah punya gambaran besar mengenai keamanan energi, pangan, dan kesehatan. Ketika beliau (Erick Thohir) mendalami health security ternyata terbukti Indonesia itu berat di urusan-urusan kesehatan,” ujar Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga.

90 Persen Bahan Baku Impor

Menteri Erick menjelaskan, 90 persen alat kesehatan dan bahan baku obat masih diimpor dari luar negeri. Oleh karenanya, peluang mafia bergelayutan di importasi alat kesehatan ini besar. Padahal, menurutnya, sudah seharusnya Indonesia sebagai negara besar memiliki blueprint atau cetak biru strategi untuk ketahanan kesehatan.

Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, juga menyoroti kapabilitas Indonesia yang harusnya bisa menyediakan bahan baku alat kesehatan dan obat-obatan. Meskipun ada beberapa komponen yang diimpor, namun presentasenya harusnya tidak sampai setinggi itu.

“Tapi, ini sampai 90 persen lebih lho, apa tidak menyedihkan? Kita sanggup produksi APD, obat sebesar itu artinya ada market di luar, tapi tidak ada usaha untuk bikin sendiri di dalam negeri,” katanya.

Meski demikian, dirinya tidak menyebut Indonesia harus anti impor. Impor diperlukan namun tetap dalam porsi yang wajar. Di sisi lain, produksi dalam negeri juga tetap dilakukan, sehingga semua lini dikerjakan secara paralel untuk mempercepat penanggulangan Corona.

Kita Akan Sikat Mafia di BUMN

Menteri BUMN, Erick Thohir akan menyikat proyek-proyek BUMN yang berdasarkan keputusan oknum atau mafia. “Kita tidak akan mentoleransi proyek-proyek yang berdasarkan keputusan oknum atau mafia. Kita sikat,” ujar Erick Thohir dikutip dari Antara di Jakarta.

Menteri Erick mengatakan bahwa dia ingin BUMN punya bisnis inti dan ahli dalam bisnis tersebut. Kalau bisa menjadi pemain yang tangguh.

“Bukan menjadi follower (pengikut) apalagi mohon maaf menjadi tempatnya membuat proyek-proyek yang tidak jelas juntrungannya alias tidak jelas, secara ekonomi-bisnis tidak jelas, untuk pelayanan publik pun tidak jelas,” ujar Menteri Erick.

Menurut dia, BUMN itu harus jelas model bisnisnya dengan menganalisa mau bersaing di mana, mengingat nanti BUMN hanya akan ada beberapa kluster saja. Hal tersebut, lanjut Erick Thohir, diperlukan agar BUMN-BUMN bisa fokus ke bisnis intinya.

Susi Usulkan Bubaran Kementerian

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengusulkan agar pemerintah menghapus dua kementerian, yakni Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. Menurutnya, dengan langkah tersebut, bisa memberantas mafia impor yang selama ini meresahkan Tanah Air.

Sebagai gantinya, pemerintah disarankan untuk membuat Direktorat Jenderal di Kementerian Luar Negari (Kemenlu) untuk mengurusi impor tersebut.

“Pemerintah/ Pak Erick Thohir bisa lebih mudah memberantas mafia impor, kalau Departemen Perdagangan ditiadakan saja. Juga Perindustrian. Jadikan kedirektoratan di deplu. Semua akan lebih mudah dan murah,” kata Susi dalam cuitannya di Twitter.

Itulah beberapa fakta tentang mafia alat kesehatan di Indonesia yang di nilai berperan buruk dan menyulitkan Indonesia

Sumber : merdeka.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *