Jelang New Normal Bank Mandiri

Jelang New Normal Bank Mandiri

Jelang New Normal Bank Mandiri Lakukan Langkah Adaptasi

Jelang New Normal Bank Mandiri Lakukan Langkah Adaptasi – PT Bank Mandiri menyebut telah siap untuk beroperasi pada fase kenormalan baru atau ‘new normal’. Direktur Utama Royke Tumilaar menjelaskan, persiapan dilakukan sejak bulan April.

“Kami restrukturisasi hampir lebih dari 1 juta nasabah yang terkena Covid-19. Masih banyak yang harus di restrukturisasi. Kita harus adaptasi dengan kondisi ini.

Akan ada banyak perubahan, namun kita harus bisa hidup dengan perubahan ini agar dapat survive,” kata Daftar Tembak Ikan Online dalam diskusi live streaming di Jakarta, Jumat. Pihaknya juga telah menerapkan langkah pencegahan untuk mengurangi interaksi antara karyawan dan nasabah.

Ia menambahkan bahwa Bank Mandiri menargetkan untuk beroperasi secara normal pada 13-20 Juli mendatang, dengan penerapan protokol baru. Penerapan dilakukan secara bertahap mulai 25 Mei yakni saat 50 persen karyawan kembali bekerja di kantor, serta pada 26 Mei yang menargetkan 60 persen cabang kembali beroperasi,

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bakal memangkas jumlah kantor cabang untuk menyongsong fase normal baru (new normal) di tengah pandemi virus corona (covid-19) dengan cara merealokasi kantor yang letaknya berdekatan. Namun realokasi ini disebut tidak akan mengurangi jumlah pegawai.

Mandiri juga menargetkan 75 persen kantor cabang yang sempat ditutup di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beroperasi kembali di akhir Juni, dan 100 persen pada akhir Juli.

Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan bahwa pihaknya juga terus mendorong transformasi menuju digital. Salah satunya, meminta para debiturnya untuk mengajukan restrukturisasi kredit secara online untuk mengurangi interaksi tatap muka.

Mandiri juga menargetkan 75% kantor cabang

Perseroan juga menetapkan target untuk beberapa hal lain, seperti waktu operasi normal kantor pusat dan layanan cabang, pengoperasian Electronic Data Capture (EDC), dan kehadiran 95 persen karyawan di kantor.

Sejak PSBB dimulai, hanya 60 persen kantor cabang Bank Mandiri yang tetap beroperasi. Hal itu diputuskan karena prioritas keselamatan karyawan dan nasabah. Royke mengatakan, saat ini telah ditempatkan kaca akrilik untuk menjaga jarak.

Menurut Royke, isu ketenagakerjaan akan muncul jika jumlah kantor cabang bank berlogo pita emas ini berkurang signifikan. Sebab, mau tak mau tenaga kerja yang saat ini berhadapan langsung dengan nasabah harus dialihkan ke divisi lain yang mendukung transformasi bank ke arah digital.

“Saya juga bicara kepada serikat pekerja akan berkurang cabang kita karena tuntutan transaksi digital ini akan tinggi,” tuturnya. “Mungkin ke depan cuma 20 persen cabang kami yang cukup untuk melayani (termasuk kredit),” ucapnya dalam diskusi online, Jumat.

Meski demikian, ia optimistis bahwa dampaknya terhadap pengurangan jumlah karyawan tidak akan besar sebab digitalisasi akan membuat proses transaksi lebih cepat dan membuat bisnis bisa tumbuh lebih tinggi.

“Efeknya pada ekonomi kalau bank bisa cepat penyaluran uang ke banyak tempat dan banyak nasabah baru tentunya itu akan menyerap tenaga kerja pada akhirnya dan memunculkan bisnis-bisnis baru. Dan saya bicara ke teman-teman untuk switch dengan bisnis ke depan,” terang Royke.

Selain itu Mandiri juga menyatakan siap untuk meningkatkan keahlian karyawan agar bisa beradaptasi dengan perubahan teknologi perbankan. Selain itu, Bank Mandiri juga melakukan restrukturisasi pada nasabah yang terdampak Covid-19. Menurut Royke, restrukturisasi itu bukan satu-satunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *