Temuan Siras Cakra Bukti Candi Gedog Lebih Tua dari Masa Majapahit

Temuan Siras Cakra Bukti Candi Gedog Lebih Tua dari Masa Majapahit

Temuan Siras Cakra Bukti Candi Gedog Lebih Tua dari Masa Majapahit

Temuan Siras Cakra Bukti Candi Gedog Lebih Tua dari Masa Majapahit – Dalam ekskavasi Candi Gedog ditemukan fragmen arca bagian sandaran atau stela dan siras cakra. Dari pahatannya yang halus dan rapi, menunjukkan bahwa usia Candi Gedog lebih tua dari masa Kerajaan Majapahit.
Arkeolog BPCB Jatim Nugroho Harjo Lukito menyebut, temuan ini cukup istimewa. Karena mengubah terpekirakan awal bahwa situs ini merupakan jejak peninggalan Kerajaan Majapahit.

Satu fragmen arca dan siras cakra itu temukan pada sisi barat pohon beringin pada kedalaman 60 cm. keadaanya terbelah menjadi tiga bagian. Selain itu, tim juga telah menemukan bagian lantai dan struktur sisi barat bangunan yang mengarah ke selatan.

“Dari sisi pemahatan sangat detail, halus dan rapi sekali. Ada motif batik dan motif sulur pada siras cakra. Ini identik dengan seni arca pada masa Singashari. Karena pada masa itu dikenal sebagai puncak seni arca masa Hindu Budha ,Jawa Timur. Tapi itu masih asumsi sementara, semoga kita temukan bagian arca yang lain,” kata Nugroho kepada detikcom, Sabtu (10/10/2020)

Temuan Fragmen Arca Bagian Sandaran Atau Stela Dan Siras Cakra

Melansir dari https://bigleegs.com/ Nugroho menilai, temuan ini merupakan data yang sangat penting. Karena asumsi sebelumnya, situs Candi Gedog merupakan peninggalan masa Majapahit. Namun dengan adanya temuan ini, asumsi tersebut berubah. Setidaknya, jauh lebih tua dari perkiraan awal.

Pada siras cakra itu, lanjut ia, ada satu atribut kedewaan. Dari struktur dan konstruksi yang , Nugroho menemukan mengasumsikan jika situs ini mengarah ke petirtaan. Namun bangunan ini terperuntukkan bagi seseorang yang memiliki strata sosial tinggi.

“Mengarah ke petirtaan bagi masyarakat dengan strata sosial tinggi. Bukan untuk masyarakat umum pada masa lalu,” ungkapnya. Melansir dari http://haveyouseenhim.com/

Tim BPCB Jatim mengaku kesulitan dalam proses ekskavasi situs ini. Karena banyak reruntuhan bangunan yang tidak beraturan. Sehingga tim harus melihat satu per satu. Apakah reruntuhan yang sudah tidak tertata atau menyisakan beberapa struktur seperti pergeseran. Namun targetnya, mereka harus menemukan sudut tembok timur dan tembok selatan yang mengarah ke timur barat.